Review Solo Leveling: Anime Aksi Paling Memuaskan dengan Kebangkitan Sung Jinwoo

Oleh Admin ·

Sebelum diadaptasi menjadi anime, Solo Leveling sudah menjadi fenomena besar sebagai webtoon asal Korea Selatan. Jutaan pembaca menunggu momen ketika Sung Jinwoo, hunter terlemah di dunia, akhirnya bergerak dan bertarung di layar. Penantian itu terbayar pada Januari 2024, ketika A-1 Pictures merilis adaptasi animenya. Pertanyaannya, apakah anime ini benar-benar sesuai dengan ekspektasi setinggi itu?

Ilustrasi: Seoul pada malam hari, latar cerita Solo Leveling. Foto: mauveine.kim, CC0, via Wikimedia Commons

Dalam review ini, kami akan membahas Solo Leveling dari berbagai sisi: cerita, karakter, kualitas animasi, musik, serta kelebihan dan kekurangannya. Kalian juga akan menemukan skor akhir dan saran untuk siapa anime ini paling cocok.


Informasi Dasar Anime Solo Leveling

JudulSolo Leveling (Ore dake Level Up na Ken)
StudioA-1 Pictures
SumberNovel web karya Chugong, diadaptasi menjadi webtoon oleh studio Redice
Tayang perdanaJanuari 2024
Musim keduaSolo Leveling Season 2: Arise from the Shadow (Januari 2025)
GenreAksi, fantasi, petualangan

Trailer Resmi Solo Leveling

Sumber video: trailer resmi dari kanal YouTube Crunchyroll. Hak cipta milik pemegang lisensi masing-masing.

Sinopsis Solo Leveling

Dunia dalam Solo Leveling berubah sejak munculnya gate, yaitu portal yang menghubungkan bumi dengan dungeon berisi monster. Bersamaan dengan itu, sebagian manusia mendapatkan kekuatan khusus dan disebut hunter. Para hunter bertugas menaklukkan dungeon sebelum monster di dalamnya keluar ke dunia nyata.

Sung Jinwoo adalah hunter peringkat E yang dijuluki hunter terlemah umat manusia. Ia nyaris selalu terluka saat menjalankan misi, tetapi tetap bekerja karena harus membiayai perawatan ibunya yang sakit dan kebutuhan adiknya. Suatu hari, Jinwoo ikut dalam penyerbuan sebuah dungeon ganda yang ternyata menyimpan bahaya mematikan. Hampir seluruh anggota kelompoknya tewas, dan Jinwoo sendiri berada di ambang kematian.

Saat sadar, Jinwoo menemukan bahwa ia terpilih oleh sebuah sistem misterius yang memberinya misi harian layaknya permainan video. Jika menyelesaikan misi, ia bisa naik level dan bertambah kuat. Hanya Jinwoo yang memiliki kemampuan ini. Sejak saat itu, perjalanan hunter terlemah menjadi yang terkuat pun dimulai.

Sung Jinwoo dan Perkembangan Karakternya

Daya tarik utama Solo Leveling ada pada perubahan Jinwoo. Di episode awal, ia digambarkan rapuh, penakut, dan selalu berada di belakang kelompok. Namun, setelah sistem memilihnya, ia mulai berlatih dengan tekun dan mengambil keputusan yang makin dingin serta penuh perhitungan.

Anime ini cukup baik dalam menunjukkan sisi manusiawi Jinwoo. Ia tetap peduli pada keluarganya dan tidak tiba-tiba menjadi sosok tanpa perasaan. Namun, kalian akan merasakan bahwa makin kuat dirinya, makin besar pula jarak antara Jinwoo dan orang-orang di sekitarnya. Perubahan ini memberi lapisan emosi pada kisah yang sekilas tampak sederhana.

Satu hal yang perlu kalian ketahui, Solo Leveling sangat berfokus pada Jinwoo. Karakter pendukung seperti Yoo Jinho, Cha Hae-in, atau Lee Joohee memang hadir, tetapi porsinya kecil. Bagi sebagian penonton, ini terasa wajar karena judulnya pun "solo". Bagi penonton lain, fokus tunggal ini membuat dunia cerita terasa kurang luas.

Dunia Hunter dan Sistem Peringkat

Hunter di Solo Leveling dibagi berdasarkan peringkat, mulai dari E sebagai yang terlemah hingga S sebagai yang terkuat. Gate juga punya peringkat yang menunjukkan tingkat bahayanya. Sistem ini membuat penonton mudah memahami seberapa besar ancaman di setiap misi.

Unsur permainan video menjadi bumbu khas. Layar status, misi harian, hadiah, dan hukuman ditampilkan dengan antarmuka biru yang langsung mengingatkan pada gim RPG. Bagi kalian yang suka bermain gim, detail ini terasa menyenangkan. Kalian bisa ikut menebak statistik apa yang akan ditingkatkan Jinwoo berikutnya.

Arc dungeon ganda di awal cerita juga patut disebut. Atmosfernya mencekam, dengan patung raksasa dan aturan aneh yang harus dipatuhi agar selamat. Bagian ini membuktikan bahwa Solo Leveling tidak hanya mengandalkan aksi, tetapi juga mampu membangun ketegangan dengan baik.

Ilustrasi: Menara Namsan, Seoul. Foto: Matt Kieffer, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons

Animasi dan Koreografi Pertarungan

A-1 Pictures menggarap Solo Leveling dengan kualitas yang umumnya solid. Adegan pertarungan menjadi sorotan utama, terutama ketika Jinwoo mulai menunjukkan kecepatan dan ketangkasannya. Gerakan belati, efek bayangan, dan pencahayaan gelap membuat setiap pertarungan terasa intens.

Puncak musim pertama, ketika kemampuan khas Jinwoo terungkap sepenuhnya, menjadi salah satu momen paling memuaskan di anime aksi tahun itu. Adegan ini sudah lama ditunggu oleh pembaca webtoon, dan versi animenya berhasil menghadirkannya dengan megah.

Meski begitu, kualitas animasinya tidak selalu sama di setiap episode. Pada beberapa adegan percakapan, gerakan karakter terasa lebih sederhana. Hal ini cukup wajar untuk anime televisi, dan tidak sampai mengganggu pengalaman menonton secara keseluruhan.

Musik: Sentuhan Khas Hiroyuki Sawano

Musik latar Solo Leveling digarap oleh Hiroyuki Sawano, komposer yang dikenal lewat karya-karyanya untuk Attack on Titan dan Kill la Kill. Gaya khasnya yang penuh dentuman, paduan suara, dan nuansa epik sangat cocok dengan kisah kebangkitan Jinwoo. Setiap kali musik Sawano masuk di tengah pertarungan, tensinya langsung naik.

Lagu pembuka "LEveL" yang dibawakan SawanoHiroyuki[nZk] bersama TOMORROW X TOGETHER juga cepat populer, terutama di kalangan penggemar K-pop. Kolaborasi ini terasa pas, mengingat Solo Leveling berasal dari Korea Selatan.

Kelebihan dan Kekurangan Solo Leveling

Kelebihan

  • Perjalanan karakter dari terlemah menjadi terkuat yang sangat memuaskan.
  • Adegan pertarungan intens dengan koreografi yang jelas.
  • Musik Hiroyuki Sawano yang memperkuat suasana epik.
  • Unsur gim RPG yang menyenangkan untuk diikuti.
  • Tempo cerita cepat dan mudah dinikmati.

Kekurangan

  • Karakter pendukung kurang mendapat pendalaman.
  • Paruh awal musim pertama dibangun cukup lama sebelum Jinwoo benar-benar kuat.
  • Kualitas animasi kadang menurun pada adegan non-aksi.
  • Bagi penonton yang mencari cerita kompleks, alurnya mungkin terasa sederhana.

Solo Leveling Cocok untuk Siapa?

Solo Leveling sangat cocok untuk kalian yang menyukai anime aksi dengan tokoh utama yang terus bertambah kuat. Kalau kalian menikmati kisah power fantasy, sistem level layaknya gim, dan pertarungan yang memacu adrenalin, anime ini akan terasa sangat memuaskan.

Namun, jika kalian mencari cerita yang lebih tenang dan reflektif, kalian mungkin lebih cocok dengan Sousou no Frieren. Sementara itu, kalau kalian ingin aksi yang dipadukan dengan komedi dan hal-hal gaib, review Dandadan bisa menjadi bacaan berikutnya.

Skor Akhir Review Solo Leveling

AspekNilai
Cerita8/10
Karakter7,5/10
Animasi8,5/10
Musik9/10
Faktor seru9/10

Skor akhir: 8,4/10

Solo Leveling mungkin bukan anime dengan cerita paling dalam, tetapi ia tahu persis apa yang ingin diberikan kepada penonton: rasa puas melihat seseorang bangkit dari posisi paling bawah. Dengan animasi yang solid dan musik yang kuat, anime ini layak menjadi salah satu tontonan aksi favorit kalian.

Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Solo Leveling

Apakah Solo Leveling anime atau manhwa?

Solo Leveling awalnya adalah novel web Korea, lalu diadaptasi menjadi webtoon atau manhwa. Versi animenya diproduksi oleh studio Jepang, A-1 Pictures.

Apakah musim pertama memiliki akhir yang memuaskan?

Ya. Musim pertama ditutup dengan momen besar yang memuaskan, meskipun ceritanya masih berlanjut ke musim kedua.

Apakah Solo Leveling cocok untuk penonton anime pemula?

Sangat cocok. Alurnya mudah diikuti, konsepnya jelas, dan tempo ceritanya cepat. Perlu diperhatikan bahwa ada adegan kekerasan dan darah, sehingga lebih cocok untuk remaja dan dewasa.

Apakah perlu membaca webtoon sebelum menonton?

Tidak perlu. Anime ini dirancang agar bisa dinikmati oleh penonton yang belum pernah membaca webtoon-nya.

Rujukan

Review Terkait

    Komentar